SEDEKAH HARTA, ikhlaskan semua!!!

Setiap perkara penting yang tidak di awali Basmalah, maka amalan itu akan tertolak. (HR. Abu Hurairah)

Maka yuk awali dengan dengan membaca Bismillah.

Sobat Lazismu Rahimakumullah

Allah berfirman dalam surat Al Ma’arij surat ke 70 ayat 24-25 yang artinya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).

Ayat di atas memberikan informasi yang sangat tegas untuk kita bahwa, dalam harta yang Allah Swt titipkan kepada kita itu bukan milik kita 100 persen. Di dalam harta kita itu ada sebagian hak orang lain yang harus kita berikan kepada yang berhak. Baik itu diminta oleh yang punya hak dalam sebagian harta kita ataupun tidak diminta oleh yang punya hak dalam sebagian harta kita.


Sumber gambar : Linkedln


Namun sayangnya banyak orang yang lupa bahwa harta itu titipan Allah Swt bukan milik kita. Maka bila sang pemilik memintanya yang harus kita berikan. Sifat lupa inilah yang menyebabkan orang itu menjadi kikir bin bakhil bin pelit, emoh mengeluarkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada yang berhak.

Dalam memandang harta, yuk belajar kepada tukang parkir. Tukang parkir itu kaya banget lho. Bagaimana tidak kaya, mobilnya dan sepeda motornya selalu berganti-ganti. Tapi tidak ada tukang parkir yang merasa memiliki mobil atau sepeda motor yang ganti-ganti itu. Karena ketika mobil atau sepeda motor itu datang, para tukang parkir sadar bahwa itu hanya titipan saja, maka ketika sang pemilik datang untuk mengambil mereka harus menyerahkannya.

Sama dengan harta kita, semuanya adalah titipan Allah Swt. Maka ketika diminta oleh Allah Swt ya kita harus kembalikan. Diantara cara Allah Swt meminta harta kita adalah dengan cara sedekah. Bicara sedekah, ini adalah amalan yang unik dan istimewa. Kenapa penulis katakan unik dan istimewa, karena sejatinya harta itu milik Allah Swt yang dititipkan kita, tapi ketika Allah Swt sebagai owner harta kita meminta hanya sebagian kecil saja, eh harta kita tidak malah habis yang ada malah bertambah.

Rasulullah bersabda, tidak akan berkurang harta yang di sedekahkan.

 

Sumber gambar: Instagram Lazismu Ponorogo


Kunci sedekah itu adalah, JANGAN NUNGGU KAYA DULU BARU SEDEKAH. Karena Allah Swt tidak pernah melihat berapa banyak nominal yang kita sedekahkan. Yang Allah Swt lihat itu adalah keikhlasan kita dalam sedekah. Ikhlas itu bukan berarti tidak ada yang tahu kalau kita sedekah. Apakah kemudian ketika kita sedekah kemudian nama kita disebutkan, lantas kita di katakan tidak ikhlas. Tentunya tidak dong. Misalkan kita sedekah ke Lazismu PDM Kota Malang yaitu melalui www.lazismukotamalang.com, kemudian dalam laporan Lazismu muncul nama kita dengan disebutkan pula nominal sedekah kita, lantas kita dikatakan tidak ikhlas dalam sedekah. Tentunya tidak guys.

Allah Swt berfirman dalam surat al Baqarah/2 ayat 271, “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu..”. Jelas dalam ayat ini boleh kok sedekah kemudian disebutkan namanya. Walau ada opsi yang lebih save yaitu sedekah dengan cara sembunyi-sembunyi bila dalam hadits disebutkan memberi dengan tangan kanan, maka tangan kiri jangan sampai tahu.

 Yang dikatakan ikhlas dalam bersedekah itu adalah seperti yang Allah Swt gambarkan dalam surat Al Baqarah/2 ayat 263, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima),…”. Jadi ikhlas dalam bersedekah itu adalah tidak membicarakan kembali sedekah yang sudah dilakukan apalagi sampai menyaikiti hati yang menerima sedekah kita. Dalam Bahasa Jawa dikenal dengan istilah ngundat-ngundat.

 

Sumber gambar: instagram


Kalau mau belajar ikhlas itu belajarlah pada ayam betina. Kita tahu ayam betina itu yang bersusah payah untuk bertelur, tapi setelah telur itu kita beli, kemudian kita goreng maka kita menyebutnya telur mata sapi, bukan telur mata ayam. Apakah melihat hal tersebut lantas ayam menjadi baper, kemudian ayam betina melakukan mogok masal tidak mau bertelur. Ndak kan!!!

Begitulah ikhlas, setelah kita bersedekah dengan harta kita, maka ya sudah lupakan sedekah yang barusan kita lakukan tidak usah dipikirkan lagi. Rumus Ikhlas dalam bersedekah yaitu Allah Swt firmankan dalam surat Al Insan ayat 9, “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”.

Jadi rumus ikhlas dalam bersedekah itu adalah hanya mencari ridlo Allah Swt semata, tanpa mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih dari orang yang kita beri sedekah. 

Oleh mari kita tunaikan hak saudara kita yang membutuhkan dari harta yang Allah Swt titipkan kepada kita melalui Lazismu PDM Kota Malang. Sudah banyak karya nyata yang sudah Lazismu PDM Kota Malang tunjukan sebagai wujud dari pengelolaan donasi dari para donatur. Salah satu diantaranya adalah menyalurkan donasi untuk membantu saudara kita seiman yang ada di Palestina.

 

Sumber gambar : Instagram Lazismu Kota Malang


Jangan sampai kesempatan yang sudah Lazismu PDM Kota Malang ini kita abaikan. Kemudahan dan transparansi yang sudah disediakan oleh Lazismu PDM Kota Malang ini hendaknya kita manfaatkan dengan semaksimal mungkin dengan cara bersedekah harta dari harta yang Allah Swt titipkan kepada kita. Jangan sampai kita menyesal karena mengabaikan kesempatan emas ini, sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Al Munafiqun ayat 10, Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?".

Akhirnya, jangan lupa ya sobat Lazismu Rahimakumullah, yuk nikmati kemudahan dalam bersedekah harta melalui Lazismu PDM Kota Malang kunjungi saja www.lazismukotamalang.com.  

Jangan lupa juga ya sob, setelah sedekah harta di Lazismu PDM Kota Malang, ikhlaskan semuanya, maka Allah Swt akan mengganti sedekah harta kita dengan ganti yang luar biasa.

   Wallahu a’lam bish-shawab.  


Yang Harus Dipersiapakan

 Kajian Ba'da Subuh di Masjid Al Muhajiri, Kamis, 4 April 2024

Unduh file Powerpoint di sini

4 Golongan Yang Dirindukan Surga

 Kajian Ba'da Subuh di Masjid Fatimah, Selasa, 19 Maret 2024

Top Gear Menuju Finish

Muqoddimah

Mari kita biasakan untuk memulai sesuatu dengan bacaan Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tidak terasa Ramadhan tahun ini akan segera meninggalkan kita. Seakan-akan baru kemarin kita berpuasa, eh, ternyata kita sudah memasuki bukan lagi memasuki tetapi sudah menjalani fase ke tiga dibulan Ramadhan yaitu sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Kalau kita ibaratkan Ramadhan adalah track (putaran) balap, baik itu balapan mobil atau balapan sepeda motor, puasa adalah kendaraannya sedangkan kita, manusia adalah rider (pembalap)nya dan garis finishnya adalah menjadi hamba Allah yang bertaqwa, maka posisi kita sekarang adalah ada diputaran terakhir. Untuk bisa meraih garis finish yang berupa menjadi hamba Allah yang bertaqwa kita harus memaksimalkan kendaraan (baca puasa) kita dengan kecepatan penuh, diantaranya kita gunakan top gear yaitu berupa I’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Menjadi hamba Allah yang muttaqin adalah sebuah prestasi yang harus kita ukir dihadapan Allah swt. Prestasi yang akan menghantarkan kita pada kehidupan yang sebenarnya dan yang abadi, dan sebagai seorang manusia itu menjadi PR besar yang harus segera diselesaikan.

Refleksi Akhir Ramadhan

Berbicara tentang manusia telah dimaklumi bahwa, manusia pada mulanya berasal dari dua orang sejoli, Nabiyullah Adam dan ibunda Hawa yang kemudian berkembang menjadi banyak bangsa bahkan suku. Semua manusia dinegara manapun dinisbatkan kepada beliau berdua. Seperti info yang disampaikan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Nampak dalam ayat diatas bahwa kedudukan manusia dihadapan Allah adalah sama, tidak ada perbedaan. Adapun yang membedakan di antara mereka adalah dalam urusan diin (agama), yaitu seberapa ketaatan mereka kepada Allah dan RasulNya. Seorang mufasirin yang cukup tersohor yaitu Al-Hafidzh Ibnu Katsir menambahkan: “Mereka berbeda di sisi Allah adalah karena taqwanya, bukan karena jumlahnya”. Sebagaimana pesan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dalam hadits beliau, “Tidaklah seseorang mempunyai keutamaan atas orang lain, kecuali karena diinnya atau amal shalih.”

Saat ini, kehidupan manusia telah berkembang dengan pesat dalam segala aspeknya. Dari segi jumlah mencapai milyaran, dari sisi penyebaran, ratusan bangsa bahkan ribuan suku yang masing-masing mengembangkan diri sesuai potensi yang bisa dikembangkan. Dampak dari kemajuan dan perkembangan itu muncul beragam bahasa, adat istiadat, budaya dan lain-lain, termasuk di dalamnya teknologi yang mereka (baca: manusia) temukan. Namun, kalau kita renungkan agak mendalam semua itu adalah untuk jasmani kita (saja) agar hidup kita dalam keadaan sehat, tercukupi kebutuhan materi, tidak saling mengganggu, aman tentram dalam mengemban persoalan kehidupan. Inilah tuntutan “kasat mata” hidup seorang manusia.

Tak pelak dari efek lain dari perkembangan tersebut menimbulkan rasa gembira, puas, bangga, bahkan lebih dari itu, yakni sombong. Sebagai contoh, negara yang maju, kuat merasa lebih baik dan harus diikuti (baca: ditakuti) oleh negara yang lain. Orang kaya merasa lebih baik dari yang miskin, orang yang mempunyai jabatan dan kedudukan (tertentu yang lebih tinggi) merasa lebih baik dan pantas untuk diikuti oleh yang lain dalam segala tuntutannya. Bahkan kadang-kadang, orang yang ditakdirkan Allah mempunyai “kelebihan” dari orang yang ditakdirkan “kekurangan” itu menyuruh (baca: memaksa)-nya untuk mengerjakan hal-hal yang menyalahi ajaran agama Allah.

Begitulah kecenderungan manusia dalam memenuhi hasrat hidupnya, kadang (atau bahkan sering) tidak mempedulikan perintah atau larangan Allah. Padahal dari aturan agama inilah manusia diuji oleh Allah-menjadi hamba yang taat atau maksiat. Itulah parameter yang pada saatnya nanti akan dimintai pertanggung-jawabannya (lihat surat Yassin ayat 65).

Tetapi sekali lagi, karena tipisnya ikatan manusia dengan syariat Allah, manusia banyak yang tidak menghiraukan halal atau haram, karena memang manusia “tidak punyak hak” untuk menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, kecuali dikembalikan kepada syariat agama Allah. Karena minimnya ilmu syar’i itulah yang menyebabkan banyak manusia terjerembab ke lembah kedurhakaan dan jatuh ke lumpur dosa. Bahkan tidak menutup kemungkinan, para pelakunya tidak merasa berbuat dosa, atau malah bangga dengan “amal dosa” itu, na’udzubillah. Coba kita renungkan statement dari seorang tabi’in Abdullah Ibnul Mubarak:

“Aku lihat perbuatan dosa itu mematikan hati, membiasakannya akan mendatangkan kehinaan. Sedang meninggalkan dosa itu menghidupkan hati, dan baik bagi diri(mu) bila meninggalkannya”.

Lantas, sebagai seorang manusia yang telah dipercaya Allah untuk bertemu dengan Ramadhan pada tahun ini yang sebentar lagi akan meninggalkan kita prestasi manakah yang akan kita ukir? Prestasi barrun (baik), taqiyyun (tawqa) dan karimun (mulia). Ataukah sebaliknya kita ingin mengukir prestasi fajirun (ahli maksiat), syaqiyun (celaka), Dzalilun (hina). Melihat realita yang semacam itu membuat Imam Al-Hasan Al-Bashri berwasiat kepada kita semua, “Wahai manusia, ketahuilah bahwasanya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, setiap ada sehari yang berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.”

 Penutup

 Mengakhiri tulisan ini mari kita renungkan:

  1. Sudah berapa umur kita yang berlalu begitu saja?
  2. Sudah berapa amal taat yang telah kita kumpulkan sebagai investasi di sisi Allah?
  3. Sudah berapa pula, amal maksiat yang telah kita lakukan yang menyebabkan kita (nantinya) terseret kedalam Neraka?
  4. Sudah berapa Ramadhan yang telah kita lalui dan hilang tanpa meninggalkan atsar (bekas) kebaikan bagi kita?

Marilah, di penghujung Ramadhan ini kita melakukan muhasabah (intropeksi), muraqabah (retropeksi) dan muwajahah (proyeksi) terhadap kehidupan kita selama ini. Segera kita bertobat untuk ‘mengukir” dengan amal taat terhadap Allah dan Rasulnya. Umat Islam (termasuk saya dan pembaca sekalian) telah diberi hidayah berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selanjutnya tinggal bagaimana umat Islam menerjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita termasuk zhalimun linafsih, muqtashid, atau saabiqun bil khairat bi idznillah.

Dalam tafsirnya, Al-Hafizh Ibnu Katsir memberikan pengertiannya masing-masing sebagai berikut:

  1. Zhalimun linafsihi: Orang yang enggan mengerjakan kewajiban (syariat) tetapi banyak melanggar apa yang Allah haramkan (yang dilarang)
  2. Muqtashid: Orang yang menunaikan kewajiban, meninggalkan yang diharamkan, kadang meninggalkan yang sunnah dan mengerjakan yang makruh.
  3. Sabiqun bil khairat: Orang yang mengerjakan kewajiban dan yang sunnah, serta meninggalkan yang haram dan makruh, bahkan meninggalkan sebagian yang mubah (karena wara’nya)

Tak seorang pun di antara kita yang bercita-cita untuk mendekam dalam penjara. Apalagi penjara Allah yang berupa siksa api Neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan bebatuan. Tetapi semua itu terpulang kepada kita masing-masing. Kalau kita tidak mempedulikan syari’at Allah, tidak mustahil kita akan mendekam di dalamnya. Na’udzu billah. Itulah ujian Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasul SAW. “(Jalan) menuju Jannah itu penuh dengan sesuatu yang tidak disukai manusia, dan (jalan) Neraka itu dilingkupi sesuatu yang disukai oleh syahwat”.

Wallahu‘alamu bi showwab

(tulisan ini sudah pernah di muat di Malang Post Kolom Religi pada Agustus 2012)