Masjid Siti Djirzanah: Cahaya Iman di Tengah Hiruk-Pikuk Malioboro

 


Di jantung Kota Yogyakarta, tepatnya di kawasan Malioboro yang tak pernah sepi oleh langkah wisatawan dan denyut ekonomi, berdiri sebuah masjid yang menjadi oase spiritual bagi siapa pun yang singgah: Masjid Siti Djirzanah. Keberadaannya bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol nyata bagaimana nilai-nilai keimanan hadir dan hidup di tengah pusat peradaban manusia.

Malioboro dikenal sebagai pusat aktivitas duniawi—perdagangan, pariwisata, seni, dan budaya. Namun, di antara gemerlap lampu, suara kendaraan, dan keramaian manusia, Masjid Siti Djirzanah berdiri tenang, memanggil jiwa-jiwa yang rindu akan keteduhan zikir dan sujud. Inilah makna penting posisi masjid tersebut: menghadirkan Allah di tengah kesibukan dunia.

Dalam perspektif Islam, membangun masjid di tempat strategis memiliki nilai keutamaan tersendiri. Masjid yang berada di pusat aktivitas masyarakat memiliki fungsi dakwah yang luas: pertama, menjadi tempat singgah musafir untuk shalat dan beristirahat. Kedua, menjadi pengingat waktu shalat bagi mereka yang terlena oleh urusan dunia. Ketiga, menjadi ruang taubat bagi hati yang lelah oleh hiruk-pikuk kehidupan. 

Masjid Siti Djirzanah bukan hanya melayani warga sekitar, tetapi juga ribuan orang dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, yang melintas di Malioboro. Setiap rakaat shalat yang ditunaikan, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap dzikir yang terucap di dalamnya, menjadi aliran pahala yang terus mengalir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa membangun masjid karena Allah, meskipun hanya sebesar sarang burung, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.”
(HR. Ibnu Majah)

Hadis ini menegaskan bahwa pahala membangun masjid tidak diukur dari besar kecilnya bangunan, melainkan dari keikhlasan dan manfaatnya bagi umat. Ketika sebuah masjid dibangun di lokasi strategis seperti Malioboro, maka potensi amal jariyahnya berlipat ganda.

Setiap orang yang menunaikan shalat wajib dan sunnah, membaca Al-Quran, berteduh sejenak untuk menguatkan iman atau bahkan hanya sekedar "numpang" ke toilet masjid, semua itu akan mengalirkan pahala tanpa putus kepada para pendiri, pewakaf, dan siapa pun yang terlibat dalam pembangunan dan pemakmurannya.

Di tengah arus kapitalisme, hiburan, dan gaya hidup modern, masjid di pusat kota adalah bentuk perlawanan spiritual terhadap kelalaian manusia. Masjid Siti Djirzanah seolah berkata bahwa Islam tidak menjauh dari kehidupan, tetapi justru hadir untuk menuntunnya. 
Allah SWT berfirman:
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir…”
(QS. At-Taubah: 18)

Memakmurkan masjid di kawasan seperti Malioboro adalah wujud iman yang aktif—iman yang tidak bersembunyi, tetapi berdiri tegak di tengah masyarakat.

Penutup
Masjid Siti Djirzanah adalah bukti bahwa di mana pun manusia beraktivitas, di situlah cahaya Allah seharusnya hadir. Letaknya yang strategis di tengah Malioboro bukan kebetulan, melainkan hikmah: agar setiap langkah manusia selalu dekat dengan panggilan Ilahi.
Semoga para pendiri dan pengelolanya terus mendapatkan pahala jariyah yang tak terputus, dan semoga Masjid Siti Djirzanah senantiasa menjadi mercusuar iman di tengah denyut kehidupan Yogyakarta.
(afr)