HATSHEPSUT, FIRAUN PEREMPUAN YANG MENYARU LAKI-LAKI (Seri 11)

Keluar dari Lembah Raja, kami memutuskan untuk mengunjungi situs Kuil Hatshepsut. Inilah kuil yang dibangun Firaun perempuan dalam era Kerajaan Mesir kuno pada abad 15 SM. Lokasinya di balik bukit yang mengelilingi Lembah Raja.
Sebenarnya masih ada sejumlah situs menarik lainnya di Luxor. Sayang, kami harus segera melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Nil lebih ke utara. Dengan demikian, Kuil Hatshepsut menjadi situs terakhir yang kami kunjungi di bekas ibu kota New Kingdom itu.
Keluar dari Valley of The King, hari sudah menjelang sore. Karena itu, kami agak tergesa-gesa menuju Kuil Hatshepsut. Sebab, jika terlalu sore, kami akan kehilangan momentum cahaya matahari untuk memotretnya. Lantaran tergesa-gesa, kami jadi keliru jalan.
Tapi, kekeliruan itu justru membuat kami menemukan dua patung raksasa dari zaman Amenhotep III yang eksotis. Dua patung yang sudah rusak wajahnya tersebut konon berada di pintu gerbang kuil yang dibangun Amenhotep III dari zaman Firaun tiga generasi setelah Hatshepsut. Situs itu kini sedang digali kembali.
Setelah mengambil gambar beberapa objek, kami menuju Kuil Hatshepsut yang ternyata tidak jauh dari dua patung Colossi of Memnon itu. Lokasinya benar-benar eksotis. Kuil yang pernah ditempati para biarawan Kristen pada awal-awal tahun Masehi tersebut menempel di dinding tebing yang curam.
Jadi, separo bangunannya dipahatkan ke bukit, separo lagi disusun dari bebatuan kapur yang juga diambil dari bukit-bukit di sekitarnya. Kalangan Kristen menyebut kuil itu sebagai Deir El Bahri alias biara di pinggir sungai besar, yakni Sungai Nil.
Halaman kuil itu demikian luas, sehingga untuk menuju pintu gerbangnya perlu menggunakan kereta ulang-alik seperti di Lembah Raja. Tempat parkirnya bisa menampung ratusan mobil peziarah. Di pinggiran kawasan parkiran itu terdapat pokok-pokok kayu Myrh alias pohon kemenyan yang pada zaman Firaun dulu berjajar rimbun. Pohon kemenyan tersebut didatangkan dari negeri Somalia yang dulu menjadi partner perdagangan Hatshepsut. Tapi, kini pohon-pohon itu sudah tidak ada, sehingga suasananya menjadi demikian terik.
Di bagian tengah lapangan luas tersebut ada jalan utama yang mengantarkan ke gedung kuil bertingkat tiga itu. Di sepanjang jalan utama terdapat bekas-bekas patung singa berkepala domba sebagaimana terdapat di Kuil Karnak. Menyusuri jalan itu, pengunjung akan sampai ke jalanan naik untuk menuju ke lapangan yang lebih tinggi dan luas. Semacam teras utama, sebelum memasuki kuil yang sesungguhnya.
Dari teras utama, untuk menuju kuil peribadatannya, pengunjung harus naik satu tingkat lagi melewati jalan mendaki yang lebar. Di pilar-pilar penyangga kuil itu, Hatshepsut membuat berbagai ornamen yang menggambarkan dirinya sebagai anak Tuhan.
Sementara itu, di sebelah kanan jalan utama, ada gambar seorang bayi yang baru dilahirkan oleh Dewi Neith, sang Dewi Perang. Tampaknya, Hatshepsut ingin mencitrakan dirinya sebagai sosok perempuan yang kuat, sehingga pantas menjadi Firaun.
Lebih ke kanan, di bagian ujung, terdapat ruangan Anubis yang berisi gambar-gambar mural berwarna-warni di dinding-dindingnya. Mural itu bercerita tentang Firaun Tuthmosis III yang sedang melakukan persembahan kepada Dewa Matahari, Ra Harakhty. Tuthmosis III adalah anak tiri Hatshepsut, yang semestinya berhak atas kekuasaan kerajaan tapi direbut oleh Hatshepsut.

Suami Hatshepsut adalah Tuthmosis II. Dia mempunyai istri Neferu Ra sebagai permaisuri dan memiliki anak yang kelak menjadi Tuthmosis III. Sedangkan Hatshepsut adalah selir. Ketika Tuthmosis II meninggal, otomatis kekuasaan kerajaan jatuh ke tangan Tuthmosis III. Dia pun dilantik menjadi Firaun pada 1476 SM.
Namun, saat itu dia masih kanak-kanak, sehingga kerajaan dikendalikan para menterinya. Hatshepsut lantas merebut kekuasaan Tuthmosis III. Dia kemudian menahbiskan dirinya sebagai Firaun yang berkuasa penuh selama 15 tahun (1473-1458 SM) sebelum akhirnya direbut kembali oleh Tuthmosis III yang melanjutkan kekuasaan sampai meninggal pada 1425 SM.
Selama kekuasaannya, Hatshepsut mencitrakan dirinya sebagai Firaun laki-laki. Karena itu, patung-patung di Kuil Hatshepsut menggambarkan dirinya mengenakan mahkota Firaun bertumpuk dua sebagaimana para Firaun laki-laki. Bahkan, patungnya diberi jenggot panjang, meski bentuk badannya feminin.
Di sebelah kiri Kuil Hatshepsut terdapat dua kuil lain, yaitu Kuil Tuthmosis III dan Kuil Amenhotep II -Firaun yang berkuasa setelah Tuthmosis III. Di ruang bagian paling dalam, ruang peribadatan utama, terdapat patung Dewa Matahari, Amun Ra. Memang, secara keseluruhan, kawasan itu merupakan kompleks kuil tiga generasi Firaun. Yakni, Hatshepsut, Tuthmosis III, dan Amenhotep II.
Tapi, yang masih tegak berdiri dengan kukuh dan paling utuh adalah Kuil Hatshepsut. Meski, saat berkuasa kembali, Tuthmosis III sempat menghancurkan peninggalan Hatshepsut. Karena dendam dikudeta, anak tiri Hatshepsut itu merusak patung-patung ibu tirinya.
Kendati dirusak, para arkeolog berhasil menemukan kembali serpihan-serpihannya sehingga sejumlah patung Hatshep sut bisa direkonstruksi kembali dengan baik. Hasil rekonstruksi itu kemudian ditempatkan di lokasi aslinya, di pilar-pilar bagian depan kuil sebagai Firaun perempuan berjenggot yang mengenakan mahkota Firaun laki-laki.
Kekuasaan Firaun perempuan itu berakhir dengan kematian yang misterius. Ada yang memperkirakan dia dibunuh Tuthmosis III. Muminya sempat tidak teridentifikasi selama bertahun-tahun dan disimpan di gudang Museum Mesir kuno di Kairo.
Sampai akhirnya ada kepastian bahwa mumi itu merupakan mumi Hatshepsut. Kini, mumi Hatshepsut dipajang bersama mumi-mumi Firaun lainnya seperti Ramses II, Seti I, dan Firaun laki-laki lainnya. Tentu saja, mumi Hatshepsut terlihat sebagai mumi perempuan karena sudah tidak mengenakan mahkota double-crown dan tidak berjenggot seperti patung-patungnya.
Dari kisah Hatshepsut itu, terbetik pelajaran bahwa perbuatan tidak baik tidak akan pernah melahirkan kebaikan. Kejahatan berbalas kejahatan. Keserakahan akan berbalas keserakahan pula. Juga, kekerasan akan berbalas kekerasan. Allah mengajarkan hukum alam yang telah diciptakan-Nya dengan adil ini kepada umat manusia. Barang siapa berbuat baik, kebaikan itu untuk dirinya sendiri, barang siapa berbuat jahat, balasan atas kejahatan itu pun untuk dirinya sendiri, dan Allah tidak pernah menganiaya hamba-hamba(Nya) (QS 41: 46).
Bahkan, secara tegas, Allah menyatakan bahwa rencana jahat tidak akan ke mana-mana, kecuali akan kembali kepada yang melakukannya. ''Rencana jahat tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) hukum (Allah yang telah terjadi) kepada orang-orang yang terdahulu...'' (QS 35: 43). (bersambung)

Ziarah ke Gua Persembunyian Isa dan Maryam (Seri 11)

Akhirnya, kami benar-benar meninggalkan Kota Luxor yang bertaburan situs penting dalam sejarah Mesir kuno. Kami berangkat pagi untuk menuju Kota Asyut yang berjarak sekitar 300 km dengan mengendarai mobil.
Menyusuri jalan sebelah timur Sungai Nil lebih baik jika dibandingkan dengan sebelah barat. Jalanan tepi barat adalah kawasan yang dikenal dengan nama zira'i alias jalanan pedesaan dan area pertanian. Sedangkan kawasan timur dikenal sebagai sakhrawi alias jalanan padang pasir. Lewat zira'i, perjalanan tidak akan lancar karena sering bertemu dengan perkampungan, pasar, dan iring-iringan kambing atau sapi. Sedangkan lewat sakhrawi jauh lebih lancar. Bahkan, rasanya seperti lewat tol meskipun harus melalui kawasan padang pasir nan tandus.
Sekitar empat jam perjalanan, sampailah kami di Kota Asyut. Sebuah kota yang bersih dan tenteram. Aliran Sungai Nil yang tenang menambah ketenteraman kota kecil itu. Tidak banyak situs Mesir kuno di kawasan tersebut. Tetapi, ada situs yang sangat menarik dari zaman Masehi. Yakni, tempat singgah Nabi Isa dan ibunya, Siti Maryam.
Sebelum pergi ke penginapan, saya memutuskan langsung berkunjung ke perbukitan Jabbal Asyut, tempat nabi Bani Israil itu singgah bersama ibunya. Daerahnya agak masuk dari jalan utama, sekitar 10 km. Kemudian, berbelok, naik ke perbukitan. Dari kejauhan, lokasi situs sudah kelihatan. Situs tersebut berupa sebuah gua besar yang kini sudah berubah menjadi sekelompok bangunan gereja: Deir Durunka. Di situlah terdapat salah satu pusat pengaderan biarawan Kristen Koptik untuk mengembangkan agamanya.
Untung, kami datang pada Agustus, saat perayaan datangnya Isa dan Maryam ke tempat tersebut dihelat. Jadi, jamaah yang berziarah sedang ramai-ramainya. Menurut panitia perayaan, jumlah jamaah yang datang bisa mencapai 1 juta orang dalam waktu 15 hari. Yaitu, mulai 7-22 Agustus.
Memasuki halaman Biara Durunka, saya mendengar suara puji-pujian dalam bahasa Arab, mirip orang Islam kala mengaji, yang disiarkan lewat pengeras suara. Ingin tahu isinya, saya membeli buku pujian itu. Bunyinya, antara lain:
Ummuna yaa 'adrak, yaa ummal masih.
Yalli fiiki daaiman biyikhlu almadiih.
Quluubna bitikhibbik khubb
ma lausy matsil.
A'idzin nufadhdhol janbik wa
naquulu taraatil.
(Ibunda kami sang perawan suci, wahai ibunda Almasih.
Yang ada pada dirimu selamanya pantas mendapatkan puji-puji.
Kami mencintaimu dengan sepenuh hati, cinta yang tak tertandingi.
Kami ingin selalu berada di sampingmu dan menghaturkan puji-puji.)
Memasuki kawasan gua suci, kami didampingi seorang biarawan bernama Abram. Dia menemani kami melihat-lihat sampai dalam gua yang ternyata cukup besar, seluas ratusan meter persegi. Di tempat itulah dulu perawan suci Maryam dan putranya, Nabi Isa, bersembuyi dari kejaran Raja Herodes yang hendak membunuh mereka.
Gua di Jabbal Asyut itu menjadi persinggahan terakhir ibu dan anak tersebut dalam menempuh perjalanan sekitar 1.000 km. Mereka berkelana sekitar tiga tahun, dimulai dari Palestina, menyeberang ke Mesir lewat Gaza dan Rafah, kemudian menyusur ke arah hulu Sungai Nil, tepatnya ke selatan. Waktu itu Nabi Isa masih berumur beberapa bulan. Dengan naik keledai dan didampingi Yusuf, paman Maryam, mereka singgah di berbagai kota di sepanjang Sungai Nil. Di antaranya, Tal Basta, Sakha, Wadi El Natrun, Bahnassa, Smalot, Dairut, Jabbal Kuskam, dan terakhir Jabbal Asyut.
Bersama biarawan Abram, saya melihat-lihat isi gua yang kini menjadi tempat peribadatan umat Kristen Koptik itu. Saya mengamati dua ruang yang pernah menjadi tempat tidur Maryam dan Isa. Yaitu, pojok kanan dan kiri bagian paling dalam gua. Di sana, banyak jamaah yang berkerumun untuk berdoa dan memohon berkah. Mereka berdoa sambil menghadap ke dalam ruang yang diberi pintu terali, yang di dalamnya terdapat foto Bunda Maryam dan Nabi Isa dalam ukuran besar. Foto ibu dan anak tersebut setiap perayaan tahunan seperti sekarang selalu diarak keliling Kota Asyut dengan dinaikkan ke kendaraan semacam kereta. Dalam waktu bersamaan, umat Kristen Koptik di sekitar Jabbal Asyut menggelar pasar malam dengan acara-acara meriah. Juga ada acara pembaptisan bayi dan anak-anak.
Peribadatan penganut Kristen Koptik memiliki sejumlah perbedaan dengan umat Kristen pada umumnya. Mereka mengaku memperoleh syiar agama lewat orang-orang suci pada zaman-zaman awal. Saya melihat foto Saint Markus dalam ukuran besar dipajang di dalam ruang gereja mereka. Orang suci itulah yang dimuliakan sebagai pembawa ajaran ke Mesir.
Salah satu di antara perbedaan tersebut adalah sembahyang tujuh kali dalam sehari yang mereka sebut sebagai as sab'u shalawat (salat tujuh waktu). Ibadah lima waktu di antaranya mirip dengan yang dijalankan oleh umat Islam, yakni pukul 06.00, 12.00, 15.00, 18.00, dan menjelang tidur. Sedangkan dua ibadah lain dilaksanakan pukul 09.00, yang mirip dengan salat Duha, dan tengah malam, yang mereka sebut sebagai nisyfu al lail, yang mirip dengan salat Tahajud. Mereka juga berpuasa 40 hari menjelang perayaan Paskah. Lalu, puncak perbedaan mereka dengan umat Kristen pada umumnya terdapat pada perayaan Natal. Mereka tidak memperingati Natal setiap 25 Desember, melainkan setiap 7 Januari.
Siti Maryam dan Nabi Isa adalah dua manusia yang sangat dimuliakan dalam Alquran. Mereka menjalani penderitaan dengan penuh kesabaran sebagai pengabdian yang tulus kepada Allah, sang Ilahi Rabbi yang mengutus mereka. Pada zaman Raja Herodes yang beragama pagan, seperti para firaun, ibu dan anak itu diancam dibunuh karena dikhawatirkan melahirkan masalah bagi Kerajaan Romawi.
Atas perintah Allah, mereka menjauh untuk sementara. Kemudian, mereka kembali kepada Bani Israil, menyiarkan agama tauhid untuk menentang agama-agama pagan yang dianut kebanyakan bangsa Romawi waktu itu. "Telah Kami jadikan putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami). Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar, yang memiliki banyak padang rumput dan sumber air bersih yang mengalir (QS. 23: 50)." (bersambung)

HATSHEPSUT, FIRAUN PEREMPUAN YANG MENYARU LAKI-LAKI (Seri 11)

Keluar dari Lembah Raja, kami memutuskan untuk mengunjungi situs Kuil Hatshepsut. Inilah kuil yang dibangun Firaun perempuan dalam era Kerajaan Mesir kuno pada abad 15 SM. Lokasinya di balik bukit yang mengelilingi Lembah Raja.
Sebenarnya masih ada sejumlah situs menarik lainnya di Luxor. Sayang, kami harus segera melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Nil lebih ke utara. Dengan demikian, Kuil Hatshepsut menjadi situs terakhir yang kami kunjungi di bekas ibu kota New Kingdom itu.
Keluar dari Valley of The King, hari sudah menjelang sore. Karena itu, kami agak tergesa-gesa menuju Kuil Hatshepsut. Sebab, jika terlalu sore, kami akan kehilangan momentum cahaya matahari untuk memotretnya. Lantaran tergesa-gesa, kami jadi keliru jalan.
Tapi, kekeliruan itu justru membuat kami menemukan dua patung raksasa dari zaman Amenhotep III yang eksotis. Dua patung yang sudah rusak wajahnya tersebut konon berada di pintu gerbang kuil yang dibangun Amenhotep III dari zaman Firaun tiga generasi setelah Hatshepsut. Situs itu kini sedang digali kembali.
Setelah mengambil gambar beberapa objek, kami menuju Kuil Hatshepsut yang ternyata tidak jauh dari dua patung Colossi of Memnon itu. Lokasinya benar-benar eksotis. Kuil yang pernah ditempati para biarawan Kristen pada awal-awal tahun Masehi tersebut menempel di dinding tebing yang curam.
Jadi, separo bangunannya dipahatkan ke bukit, separo lagi disusun dari bebatuan kapur yang juga diambil dari bukit-bukit di sekitarnya. Kalangan Kristen menyebut kuil itu sebagai Deir El Bahri alias biara di pinggir sungai besar, yakni Sungai Nil.
Halaman kuil itu demikian luas, sehingga untuk menuju pintu gerbangnya perlu menggunakan kereta ulang-alik seperti di Lembah Raja. Tempat parkirnya bisa menampung ratusan mobil peziarah. Di pinggiran kawasan parkiran itu terdapat pokok-pokok kayu Myrh alias pohon kemenyan yang pada zaman Firaun dulu berjajar rimbun. Pohon kemenyan tersebut didatangkan dari negeri Somalia yang dulu menjadi partner perdagangan Hatshepsut. Tapi, kini pohon-pohon itu sudah tidak ada, sehingga suasananya menjadi demikian terik.
Di bagian tengah lapangan luas tersebut ada jalan utama yang mengantarkan ke gedung kuil bertingkat tiga itu. Di sepanjang jalan utama terdapat bekas-bekas patung singa berkepala domba sebagaimana terdapat di Kuil Karnak. Menyusuri jalan itu, pengunjung akan sampai ke jalanan naik untuk menuju ke lapangan yang lebih tinggi dan luas. Semacam teras utama, sebelum memasuki kuil yang sesungguhnya.
Dari teras utama, untuk menuju kuil peribadatannya, pengunjung harus naik satu tingkat lagi melewati jalan mendaki yang lebar. Di pilar-pilar penyangga kuil itu, Hatshepsut membuat berbagai ornamen yang menggambarkan dirinya sebagai anak Tuhan.
Sementara itu, di sebelah kanan jalan utama, ada gambar seorang bayi yang baru dilahirkan oleh Dewi Neith, sang Dewi Perang. Tampaknya, Hatshepsut ingin mencitrakan dirinya sebagai sosok perempuan yang kuat, sehingga pantas menjadi Firaun.
Lebih ke kanan, di bagian ujung, terdapat ruangan Anubis yang berisi gambar-gambar mural berwarna-warni di dinding-dindingnya. Mural itu bercerita tentang Firaun Tuthmosis III yang sedang melakukan persembahan kepada Dewa Matahari, Ra Harakhty. Tuthmosis III adalah anak tiri Hatshepsut, yang semestinya berhak atas kekuasaan kerajaan tapi direbut oleh Hatshepsut.

Suami Hatshepsut adalah Tuthmosis II. Dia mempunyai istri Neferu Ra sebagai permaisuri dan memiliki anak yang kelak menjadi Tuthmosis III. Sedangkan Hatshepsut adalah selir. Ketika Tuthmosis II meninggal, otomatis kekuasaan kerajaan jatuh ke tangan Tuthmosis III. Dia pun dilantik menjadi Firaun pada 1476 SM.
Namun, saat itu dia masih kanak-kanak, sehingga kerajaan dikendalikan para menterinya. Hatshepsut lantas merebut kekuasaan Tuthmosis III. Dia kemudian menahbiskan dirinya sebagai Firaun yang berkuasa penuh selama 15 tahun (1473-1458 SM) sebelum akhirnya direbut kembali oleh Tuthmosis III yang melanjutkan kekuasaan sampai meninggal pada 1425 SM.
Selama kekuasaannya, Hatshepsut mencitrakan dirinya sebagai Firaun laki-laki. Karena itu, patung-patung di Kuil Hatshepsut menggambarkan dirinya mengenakan mahkota Firaun bertumpuk dua sebagaimana para Firaun laki-laki. Bahkan, patungnya diberi jenggot panjang, meski bentuk badannya feminin.
Di sebelah kiri Kuil Hatshepsut terdapat dua kuil lain, yaitu Kuil Tuthmosis III dan Kuil Amenhotep II -Firaun yang berkuasa setelah Tuthmosis III. Di ruang bagian paling dalam, ruang peribadatan utama, terdapat patung Dewa Matahari, Amun Ra. Memang, secara keseluruhan, kawasan itu merupakan kompleks kuil tiga generasi Firaun. Yakni, Hatshepsut, Tuthmosis III, dan Amenhotep II.
Tapi, yang masih tegak berdiri dengan kukuh dan paling utuh adalah Kuil Hatshepsut. Meski, saat berkuasa kembali, Tuthmosis III sempat menghancurkan peninggalan Hatshepsut. Karena dendam dikudeta, anak tiri Hatshepsut itu merusak patung-patung ibu tirinya.
Kendati dirusak, para arkeolog berhasil menemukan kembali serpihan-serpihannya sehingga sejumlah patung Hatshep sut bisa direkonstruksi kembali dengan baik. Hasil rekonstruksi itu kemudian ditempatkan di lokasi aslinya, di pilar-pilar bagian depan kuil sebagai Firaun perempuan berjenggot yang mengenakan mahkota Firaun laki-laki.
Kekuasaan Firaun perempuan itu berakhir dengan kematian yang misterius. Ada yang memperkirakan dia dibunuh Tuthmosis III. Muminya sempat tidak teridentifikasi selama bertahun-tahun dan disimpan di gudang Museum Mesir kuno di Kairo.
Sampai akhirnya ada kepastian bahwa mumi itu merupakan mumi Hatshepsut. Kini, mumi Hatshepsut dipajang bersama mumi-mumi Firaun lainnya seperti Ramses II, Seti I, dan Firaun laki-laki lainnya. Tentu saja, mumi Hatshepsut terlihat sebagai mumi perempuan karena sudah tidak mengenakan mahkota double-crown dan tidak berjenggot seperti patung-patungnya.
Dari kisah Hatshepsut itu, terbetik pelajaran bahwa perbuatan tidak baik tidak akan pernah melahirkan kebaikan. Kejahatan berbalas kejahatan. Keserakahan akan berbalas keserakahan pula. Juga, kekerasan akan berbalas kekerasan. Allah mengajarkan hukum alam yang telah diciptakan-Nya dengan adil ini kepada umat manusia. Barang siapa berbuat baik, kebaikan itu untuk dirinya sendiri, barang siapa berbuat jahat, balasan atas kejahatan itu pun untuk dirinya sendiri, dan Allah tidak pernah menganiaya hamba-hamba(Nya) (QS 41: 46).
Bahkan, secara tegas, Allah menyatakan bahwa rencana jahat tidak akan ke mana-mana, kecuali akan kembali kepada yang melakukannya. ''Rencana jahat tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) hukum (Allah yang telah terjadi) kepada orang-orang yang terdahulu...'' (QS 35: 43). (bersambung)